Setidaknya ada 11 lembaga yang terlibat mengatasi malasah stunting di Tasikmalaya

REPUBLIKA. CO. ID, TASIKMALAYA–Angka stunting di Tanah air Tasikmalaya mengalami peningkatan semasa 2020. Dinas Kesehatan Praja Tasikmalaya mencatat, terdapat 17, 58 persen atau tujuh. 731 balita yang menikmati stuntung selama 2020, bertambah dibandingkan kasus pada 2019 yang hanya ada 10, 95 persen atau 5. 373 balita.

Kepala Bidang Kesehatan Umum Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya, Suryaningsih mengatakan, peningkatan nilai stunting di Kota Tasikmalaya kemungkinan akibat dari pandemi Covid-19. Sebab, selama pandemi Covid-19 layanan posyandu dengan tatap muka sempat dihentikan. Layanan posyandu dialihkan dengan daring. “Itu bisa siap satu diantara penyebab kurangnya pemantauan, ” kata dia, Selasa (16/6).

Ia mengatakan, pihaknya bakal terus melakukan penanganan buat menekan angka stunting. Patuh dia, penanganan stunting tidak hanya dilakukan oleh jawatan kesehatan, melainkan juga sebanyak dinas terkait lainnya. Patuh dia, setidaknya ada 11 instansi yang terlibat untuk mengatasi malasah stunting dalam Kota Tasikmalaya.

Suryaningsih menjelaskan, penanganan stunting sejatinya harus dikerjakan sejak calon orang tua berusia remaja. Artinya, para remaja harus diajarkan betul menghantam proses reproduksi. “Kita juga sudah membentuk pos penyajian anak remaja untuk wadah konsultasi para remaja terkait kondisi kesehatannya, ” cakap dia.

Ia menambahkan, ketika menyimpan, ibu hamil juga harus rutin memeriksakannl kondisi kandungannya. Minimal, ibu hamil kudu kontrol sebanyak enam kala selama masa kehamilan. Sebab, apabila bayi telah tumbuh dengan kondisi stunting, penanganannya akan lebih sulit. “Jadi kalau dari awal membentuk bisa diawasi, apakah tersedia kecenderungan gizi buruk ataupun tidak. Jadi bisa dicegah dari awal, ” cakap dia.

Pelaksana Tugas (Plt) Wali Kota Tasikmalaya, Muhammad Yusuf menargetkan, angka stunting dapat ditekan sampai 30 tip hingga 2024. Karena tersebut, ia meminta semua biro terkait bekerja sama buat mengatasi masalah stunting. “Kita harus terus sosialisasi, pertama dari remaja diberi pengertian agar ketika menikah pada kondisi sehat, ” kata pendahuluan dia.

Ia menegaskan, penanganan stunting pada dasarnya merupakan suruhan semua pihak. Artinya, pengerjaan stunting bukan hanya dikerjakan oleh pemerintah, melainkan klub juga harus terlibat. “Salah satunya, dengan tetap memelihara pola hidup. Jangan terlalu banyak memakan makanan cepat saji, apalagi untuk ibu hamil, ” kata tempat.