Kenaikan NTP Juli 2020 dipengaruhi oleh naiknya NTP pada tiga subsektor pertanian.

REPUBLIKA. CO. ID, JAKARTA — Badan Sentral Statistik (BPS) melansir Nilai Tukar Petani (NTP) nasional pada Juli 2020 sebesar 100, 09 atau naik 0, 49 persen dipadankan NTP bulan sebelumnya. Kenaikan NTP ini karena Indeks Harga yang Diterima Petani (It) naik sebesar 0, 47 persen, sementara Ruang Harga yang Dibayar Petani (Ib) mengalami penurunan sebesar 0, 2 persen.

“Kalau kita lihat tentunya ini merupakan indikasi yang bagus, ” kata Kepala BPS Suhariyanto saat menggelar konvensi pers secara virtual di Jakarta, Senin (3/8).

Kenaikan NTP Juli 2020 dipengaruhi oleh naiknya NTP di tiga subsektor pertanian, yaitu NTP Subsektor Tumbuhan Perkebunan Rakyat sebesar 1, 76 persen, Subsektor Peternakan sebesar 1, 68 persen, dan Subsektor Perikanan sebesar 0, 69 persen.

Sementara itu NTP dalam dua subsektor lainnya mengalami penurunan yaitu Subsektor Tanaman Pangan sebesar 0, 25 persen dan Subsektor Hortikultura sebesar 0, 74 tip.

“Kalau kita lihat di sana, penurunan Subsektor Tanaman Pangan terjadi karena indeks makna yang diterima dan dibayarkan itu menurun. Salah satu penyebabnya ialah penurunan harga gabah, penurunan harga jagung, dan beberapa komoditas yang lain, ” ujar Suhariyanto.

Sedangkan Subsektor Tanaman Hortikultur mengarungi penurunan tajam karena dipengaruhi kenaikan harga bawang putih, bawang abang, wortel, dan nanas. Secara nasional NTP Januari–Juli 2020 lebih mulia sebesar 1, 16 persen dibandingkan NTP Tahun 2019 pada kurun yang sama.

Diketahui NTP adalah perbandingan It terhadap Ib, yang merupakan salah satu parameter untuk melihat tingkat kemampuan ataupun daya beli petani di perdesaan. NTP juga menunjukkan daya tukar (terms of trade) dari buatan pertanian dengan barang dan bantuan yang dikonsumsi maupun untuk ongkos produksi.