Selain Mina Padi, Sleman juga sudah dikenal dengan komoditas hortikultura

REPUBLIKA. CO. ID,   SLEMAN–Komisi IV DPR RI bersama jajaran Kementerian Pertanian (Kementan) melakukan kunjungan spesifik ke Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta untuk meninjau percontohan Mina Padi dalam Dusun Samberembe, Kelurahan Candibinangun, Kecamatan Pakem, Jumat kemarin (27/11). Siap Ketua Tim Kunjungan Kerja (Kunker) Spesifik Komisi IV DPR RI, I Made Urip, Direktur Jenderal Tanaman, Suwandi, Anggota Komisi IV DPR RI, TA Khalid, serta anggota Komisi IV DPR MENODAI lainnya.

Bupati Sleman yang diwakili oleh Besar Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan, Dwianta Sudibyo menyampaikan rasa terima kasih dan rasa hormat kepada Anggota Komisi IV DPR RI dan Kementerian Pertanian. Kunjungaan ini menurutnya menunjukkan besarnya perhatian pembangunan pertanian dan perikanan di Kabupaten Sleman. “Ini menjadi motivasi bagi kelompok Sleman untuk meningkatkan dan beroperasi lebih baik, ” kata Dwianta.  

Selain Mina Padi, Sleman juga sudah dikenal dengan komoditas hortikultura berupa salak pondok yang banyak dikembangkan di kawasan Merapi. Bahkan, kini dikembangkan menjadi salah satu destinasi pariwisata.  

Sementara itu, I Made Urip mengatakan kemitraan dan pembinaan yang dilakukan negeri daerah kepada petani cukup elok. Petani Sleman menurutnya cukup cakap dan pemerintah daerah serius menggarap sektor pertanian dari hulu tenggat hilir.  

“Pertanian Sleman ini menjadi contoh bagaimana pertanian menjadi leading sector dan memeberikan kontribusi terhadap perekonomian. Mudah-mudahan selama covid 19, Sleman tetap melindungi kedaulatan pangan kita, ” ujarnya.  

Anggota Komisi IV DPR RI, TA Khalid mengatakan baru pertama kali melihat Mina Padi. Pengembangan inovasi pertanian itu harus dikembangkan di daerah yang lain untuk meningkatkan perekonomian.

“Ini sangat luar biasa. Bagaimana pada sepetak sawah, bisa menanam padi dan juga memelihara ikan. Ini perlu dikembangkan di beberapa bercak, kita bisa meningkatkan produksi serta bisa dijadikan wisata, ” ungkap Khalid.  

Sementra tersebut, Direktur Jenderal Tanaman Pangan dengan turut hadir mengatakan bahwa sistem budidaya mina padi merupakan pelaksanaan pola integrated farming atau tata pertanian terpadu. Disini dikenal mina padi. Bahkan satu hamparan dibudidayakan banyak komoditas yakni padi, tumbuhan, ikan dan komoditas pangan lainnya.

“Ini merupakan salah mulia langkah nyata Kementan menyiapkan di dalam upaya peningkatan ketersediaan pangan dalam era pandemi covid 19 & ketersediaan pangan ke depannya, ” ujarnya.

Menurut Suwandi, integrated farming adalah upaya mewujudkan kemandirian pangan, sehingga Kementan mendukung petani dalam melakukan metode pertanian integrated farming dengan zero waste yang artinya penggunaan eksternal input diminimalisir dan apa yang ada dalam dalam di institusinya diputar supaya efisien di sisi.

“Kementan sangat serius mendorong pengembangan arketipe integrated farming ini melalui pemberian bantuan KUR, bantuan bibit dan sarana produksinya lainya. Pola itu menjadi model untuk dikembangkan di berbagai daerah sehingga ketahanan bertabur nasional, ” katanya.

“Sesuai arahan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, sektor pertanian Indonesia harus tangguh sehingga dalam menghadapi bermacam-macam macam goncangan, tetap eksis menyimpan makan rakyat dan meningkatkan kemajuan ekonomi secara mikro dan besar. Pola integrated farming salah reaksi dari hal ini, ” sirih Suwandi.