REPUBLIKA. CO. ID, PARIGI— Lebaran Ketupat sebagai agenda tahunan masyarakat Gorontalo di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, menjelma tradisi untuk mempererat hubungan silaturahim antarsesama warga.

“Tradisi ini dilaksanakan setelah lebaran Idul Fitri dan berlaku setiap tahun. Biasanya dijalankan satu pekan setelah Idul Fitri, ” kata Muhammad Rifai, penanggung jawab kesibukan Lebaran Ketupat, di Parigi, Sabtu (22/5).

Dia menjelaskan awak Gorontalo yang sudah pas banyak di Parigi Moutong dan telah berdomisili pada kabupaten itu, terlebih dalam Parigi sebagai ibu kota kabupaten, sehingga tradisi itu sudah berbaur dengan konvensi masyarakat lokal setempat.

Warga Gorontalo di Pokok Kota kabupaten tersebut biasa bermukim di pesisir Miring Parigi di Kelurahan Bantaya, Kecamatan Parigi dan sekitarnya sehingga tradisi ini keras dilaksanakan warga pesisir kelurahan tersebut.

Setiap Bapak katanya, mempersembahkan ketupat dan kuliner yang lain di depan rumah mereka lalu di makan bergabung, termasuk warga lain yang datang berkunjung.

“Kuliner yang disajikan ini untuk dimakan. Oleh sebab itu, siapa saja yang sampai harus ikut makan beriringan, kita tidak melihat suku apa dan dari mana asalnya, karena memang konvensi ini makan bersama, ” tutur Rifai.

Apalagi, lebaran kala ini pemerintah mengeluarkan kecendekiaan larangan mudik, sehingga dengan momen lebaran ketupat iklim kebersamaan dan kekeluargaan semakin akrab.

Menurut dia, pandemi Covid-19 bukan penghalang bagi kegiatan ini, karena dalam pelaksanaannya warga tetap memperhatikan adat kesehatan di antaranya menyimpan tempat cuci tangan, cerai-berai menggunakan masker.

“Tahun lalu konvensi ini tidak sempat awak laksanakan karena kasus Covid-19 meningkat. Alhamdulillah, kami sangat bersyukur tahun ini bisa terlaksana dengan baik berkah kerja sama marga setempat dan para pihak, ” ucap Rifai yang dengan juga Ketua Karang Taruna Kelurahan Bantaya, Parigi.

Dia mengetengahkan sebagai warga Gorontalo dalam Parigi Moutong, mereka benar menghargai tradisi tersebut, dengan harapan apa yang sudah dilaksanakan bisa menciptakan suasana kerukunan dan keamanan dalam kabupaten tersebut.

“Sesungguhnya giat ini banyak manfaatnya. Salah satunya, dengan terjalin silaturahmi oleh sebab itu hubungan sosial pun semakin baik. Hubungan sosial terjalin baik, maka tercipta iklim keamanan dan ketertiban asosiasi, ” ujarnya.

Dia menambahkan, pembiayaan kegiatan tersebut bersumber dibanding swadaya masyarakat, dan selalu mendapat dukungan dari para-para pihak. Selain kegiatan inti, ada pula kegiatan pembantu lainnya dalam bentuk lomba. Di antaranya, lomba perahu dayung, tarik tambang, panjat jambe dan lain-lain.    

sumber: Antara

Berita Lainnya