Lewis Hamilton tak kuasa meluapkan emosinya melayani selebrasi titel ketujuh F1.

REPUBLIKA. CO. ID, JAKARTA — Lewis Hamilton tak kuasa meluapkan emosinya melakukan selebrasi titel ketujuh Formula 1 yang ia renggut di Turki pada  Ahad (15/11).  

Pebalap berusia 35 tahun asal Inggris itu, sekarang menjelma pebalap tersukses Formula 1 sepanjang sejarah, menyamai rekor tujuh titel Michael Schumacher namun dengan jumlah kemenangan, pole position dan podium yang lebih banyak.

“Saya tahu sering saya bilang ini melampaui impian terliar saya tapi hamba rasa seumur hidup saya barangkali saya telah bermimpin setinggi in, ” kata Hamilton setelah menambah kemenangan ke-94 dalam karirnya.

“Ini terasa tak masuk akal. Saya ingat menonton Michael memenangi semua kejuaraan itu… tujuh tidak terbayangkan. ”

Hamilton terisak-isak ketika bicara lewat radio setelah melintasi garis finis serta merasa emosional ketika ia terkenang keluarga dan semua orang dengan telah membantunya.

“Tangis saya pecah dan lalu saya tidak bisa keluar sebab mobil karena saya tidak membenarkan itu.

“Saya tidak ingin kaca helm terbuka dan orang-orang melihat air lengah mengucur dan semuanya karena hamba selalu mengatakan saya tidak hendak pernah membiarkan kalian melihat aku menangis. ”

Ketika ditanya akankah ada pemisah, delapan, sembilan atau sepuluh kepala, Hamilton mengindikasikan ia tidak akan berhenti di angka tujuh saja.

“Tidak tersedia akhir dari apa yang mampu kami lakukan bersama, saya dengan tim ini, ” kata tempat.

“Saya merasa sepertinya saya baru saja tiba, ini sangat aneh. Saya ngerasa luar biasa secara fisik dan mental.

“Tahun ini menjadi tahun terberat kira-kira untuk jutan orang dan kami tahu hal-hal tidak selalu tampak baik di sini dan di panggung yang lebih besar tapi ini tidak jauh berbeda untuk kami para atlet.

“Saya sangat berharap tarikh depan lebih baik dan saya ingin tetap tinggal.

“Saya masih memiliki 3 balapan ke depan yang mau saya menangi. Kami akan menangi itu. Saya yakin.

Meski demikian, Hamilton ngerasa masih ada hal yang mampu dilakukan Formula 1, seperti meluluskan perhatian soal masalah hak pokok manusia dan menjadi olahraga yang berkelanjutan.

“Saya ingin membantu Formula 1, saya ingin membantu Mercedes dalam perjalanan itu, ” kata dia.

 

sumber: Antara