Tren penularan Covid-19 di Kota Bogor sebagian besar masih pada klaster keluarga

REPUBLIKA. CO. ID, BOGOR–Pemerintah Kota Bogor melakukan tes usap Covid-19 terhadap 50 aparatur sipil negara serta pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (ASN dan P3K) di Balai Kota Bogor, Rabu (14/10) dalam upaya menelusuri dan menekan penularan Covid-19 dari klaster perkantoran.

Pada pelaksanaan tes usap tersebut, Pemerintah Kota Bogor bekerja sama dengan Speed Labor yang mengujicobakan moblie laboratorium uji reaksi rantai polimerase (PCR).   Direktur Speed Labor Deni Mappa mengatakan Speed Laboratorium Rabu ini melakukan tes usap terhadap ASN dan P3K pada Balai Kota Bogor, targetnya fifty orang.   “Kami membantu Pemkot Bogor untuk pengujian PCR dari tes usap, sekaligus kami mengujicobamobile laboratorium yang memiliki kemampuan melakukan uji PCR di dalam waktu 3-5 jam, ” katanya.

Deni menjelaskan mobile laboratorium itu mampu memproses 48 sampel usap di dalam satu kali putar sekitar 3-5 jam. Dalam sehari mampu melakukan empat kali proses atau forty eight sampel kali empat. “Hasil uji PCR pada hari ini kami sampaikan ke Pemkot Bogor, ” katanya.

Salah satu peserta tes usap, Kabag Organisasi Pemerintah Kota Bogor, Amik Herdiwiati mengatakan tes usap ini bagi yang bekerja dalam sektor pelayanan publik adalah tuk pencegahan.   “Melalui tes swab ini, kalau nanti kita tahu hasilnya negatif, maka akan membuat kita lebih aman dan lebih percaya diri. Jangan sampai setelah terkena Covid-19, baru dites swab, ” katanya.

Amik juga melihat hasil tes usap berguna sebagai jaminan jika harus melakukan tugas keluar kota. “Sebagai ASN yang bertugas pada pelayanan publik, kita sering bertemu banyak jamaah dan bisa juga tugas luar kota, ” katanya.

Sementara itu, Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto mengatakan tren penularan Covid-19 pada Kota Bogor sebagian besar masih pada klaster keluarga atau rumah tangga.   Klaster keluarga ini, kata dia, andai dibedah lagi, maka akan beririsan dengan klaster perkantoran dan luar kota. “Anggota keluarga di rumah tertular oleh anggota keluarganya yang bekerja di perkantoran dan dapat juga dari kunjungan keluar kota, ” katanya.

Bima juga melihat potensi penularan Covid-19 di Keluarga, karena mereka bekerja berjam-jam dalam ruangan ber-AC yang minim ventilasi. Pihaknya meminta masyarakat tetap disiplin mengaplikasikan protokol kesehatan dengan memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan dengan sabun.   “Solusi mengatasi klaster perkantoran terkait adalah dengan memberlakukan pembatasan aksi, yakni pegawai yang bekerja dari kantor maksimal 50 persen, inch katanya.

sumber: antara