Indonesia dapat memperbesar prospek bisnis gas bumi ke negara-negara Asia Pasifik

REPUBLIKA. CO. ID JAKARTA–PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) sebagai Subholding Udara PT Pertamina (Persero) berupaya buat meningkatkan kapabilitas dalam pengelolaan LNG, sehingga dapat meningkatkan kemampuan PGN di internasional sebagai Global LNG Player.

Dengan portofolio yang dimiliki dari mulai penyediaan infrastruktur, pemrosesan, transportasi, penyimpanan, dan niaga LNG, PGN bertekad mengejar target pengembangan bisnis LNG internasional, khususnya dalam pasar Asia.

Eksekutif Strategi dan Pengembangan Bisnis PGN, Syahrial Mukhtar, mengatakan bahwa untuk PGN, LNG merupakan sebuah opportunity untuk memasuki pasar internasional, baik dari segi pengembangan infrastruktur maupun trading, sehingga bisa menjadi pemeran gas internasional. Hal ini seiring dengan peran PGN dalam mengoptimalkan pemenuhan kebutuhan gas dalam kampung. Targetnya, PGN dapat meningkatkan volume pengelolaan niaga gas bumi untuk Global LNG Trading hingga ±110 BBTUD.

“Permintaan udara di Asia Pasifik meningkat di setiap tahunnya, sebagai negara dengan basi gas yang besar, Indonesia sanggup memperbesar prospek bisnis gas bumi ke negara-negara Asia Pasifik, terutama Asia Tenggara. Beberapa negara dalam South East Asia masuk pada sasaran LNG Trading dengan prediksi permintaan sebesar 0, 5 metrik ton per tahun (MTPA) atau setara dengan sembilan kargo bohlam tahun. Respon positif telah didapatkan dan proses penjajagan dilakukan secara proyeksi permintaan sekitar 18 barang per tahun, ” jelas Syahrial, Jumat (14/8).

Syahrial mengungkapkan, upaya ekspansi bisnis LNG internasional yang telah dilakukan antara lain PGN dan Sinopec sudah menandatangani Perjanjian Master Jual Kulak LNG, investasi pada bidang oil dan gas, khususnya LNG pada Hongkong yang bersinergi dengan PT Saka Energi Indonesia dan proyek small-scale LNG di China dengan bekerja sama dengan dengan kongsi manufaktur logistik ISO Tank.

Menurut Sekretaris Perusahaan PGN Rachmat Hutama, bisnis LNG selalu menjadi bagian penting dari transformasi Pertamina sebagai Holding Migas serta PGN sebagai subholding gas. Makin pada pertengahan 2019, PGN memiliki tugas dari Pertamina untuk menganalogikan bisnis LNG end-to-end secara penuh. “PGN mengambil peran dan melakukan langkah-langkah strategi untuk memanfaatkan segala peluang LNG yang ada, diantaranya menggunakan pengelolaan FSRU, ” imbuh Rachmat.

PGN memiliki 2 FSRU yaitu FSRU Lampung di Labuhan Maringgai dengan kapasitas 1, 5 – 1, 7MTPA serta volume penyaluran mencapai 240 MMSCFD yang terintegrasi dengan fasilitas saluran transmisi SSWJ yang menghubungkan sumber-sumber gas bumi di Sumatera Selatan dan Jawa Barat dan FSRU Jawa Barat. Selain itu, PGN juga memiliki regasifiksi darat dengan dioperasikan PT Perta Arun Gas di Arun, Lhokseumawe, Propinsi Aceh. Selama ini, PGN telah meneruskan gas bumi hasil regasifikasi LNG lebih dari 250 BBTUD.

“Beberapa anak perusahaan PGN lainnya yang turut menyokong portofolio LNG yaitu Nusantara Regas dengan memiliki kapabilitas regasifikasi LNG, tetapi memang ditujukan untuk mendukung sektor kelistrikan nasional. Kemudian, PT Usang Energi Indonesia menyumbang volume LNG sekitar 48 BBTUD dan PT Pertagas Niaga yang berkontribusi pada bidang niaga LNG, ” jelas Rachmat.

Rachmat selalu mengatakan bahwa dengan mengoptimalisasi portofolio domestik tersebut, dapat menjadi catu PGN melaksanakan inisiasi ekspansi usaha LNG internasional. PGN juga akan berintegrasi dengan Holding PT Pertamina untuk optimalisasi portofolio LNG rekan internasional.

“Dalam agenda bisnis ini, tantangan pasti tersedia. Salah satunya adalah ketidakpastian nilai minyak dunia, yang bisa menjadikan harga LNG menjadi tidak bersaing. Dalam menyikapi hal tersebut, diantaranya dilakukan sinergi dengan pihak asing dalam rangka mengoptimalkan knowledge dengan dimiliki, sehingga jasa atau keluaran yang ditawarkan memiliki nilai berniaga yang lebih baik, ” ujar Rachmat.