Kelengahan terbesar pelanggar pembatasan sosial Malaysia adalah tak jaga jarak wujud.

REPUBLIKA. CO. ID, AMBANG LUMPUR — Pemerintah Malaysia mematok Jumat (13/11) malam telah membekukan 502 orang karena melanggar pemisahan sosial Perintah Kawalan Pergerakan Pemulihan (PKPP). Kesalahan terbanyak adalah tak menjaga jarak fisik dalam cara mencegah COVID-19.

“204 orang melanggar aturan menjaga tenggang fisik, 99 orang ditahan sebab tidak memakai masker, ” perkataan Menteri Pertahanan MalaysiaIsmail Sabri Yakoob dalam acara jumpa pers harian di Putrajaya, Sabtu (14/11).

Selain itu, katanya, 63 orang ditahan karena tempat usaha mereka beroperasi melebihi waktu. Sebanyak 55 orang tidak dapat menunjukkan catatan identitas pelanggan yang mengakar tempat berniaga. Sebanyak 40 orang melintas daerah atau negara bagian tanpa izin, dan 41 karakter kesalahan lain-lain.

“Dari jumlah yang ditahan, 470 individu didenda dan 32 orang ditahan, ” katanya.

Ismail mengatakan Operasi Benteng juga telah menahan 38 pendatang asing tanpa izin (PATI) dan dua makelar, juga menyita delapan kendaraan.

Polis Diraja Malaysia (PDRM) bekerja sama dengan Angkatan Tentara Malaysia (ATM) dan Agen Pengawalan Perbatasan Malaysia (Aksem) telah melaksanakan 250 blokade jalan raya. Ismail Sabri juga mengatakan semenjak 24 Juli hingga Jumat malam sebanyak 66. 823 orang telah balik ke Malaysia dan dikarantina dalam 67 hotel serta 21 wadah lain.

“Dari total tersebut, 9. 569 individu pantas menjalani proses karantina wajib sementara 388 orang diantar ke vila sakit untuk perawatan dan 56. 866 dibolehkan pulang, ” katanya.

sumber: antara