IHRAM.CO.ID, JABBER—  Yordania telah membuka secara penuh penyeberangan utamanya dengan Suriah pada Rabu untuk mendorong ekonomi kedua negara yang sedang mengalami kesulitan.

“Langkah ini ditempuh untuk mendorong perdagangan antara kedua negara guna memenuhi kepentingan semua pihak,” kata Menteri Perdagangan dan Industri Yordania Maha Al Ali kepada televisi negara Al Mamlaka.

Iring-iringan trailer Suriah menunggu proses untuk memasuki wilayah perbatasan Yordania di penyeberangan Jaber.

Polisi, dengan membawa anjing-anjing pelacak, memeriksa kendaraan yang melewati gerbang perbatasan.

Banyak taksi berpenumpang juga mengantre untuk menjalani pemeriksaan bea cukai dan imigrasi.

Meskipun penyeberangan Jabber telah dibuka sebagian sejak 2018 setelah pemerintah Suriah mendepak kelompok pemberontak dari wilayah selatan, perdagangan belum pulih ke tingkat sebelum perang, yang dulu bernilai satu miliar dolar AS (sekitar Rp14,2 triliun).

Pejabat Yordania mengatakan delegasi perdagangan dari Suriah, yang dipimpin  menteri ekonomi, perdagangan, pertanian, air dan listrik, akan membahas pencabutan hambatan tarif.

Sebelum konflik berlangsung di Suriah, penyeberangan Nasib-Jaber setiap hari merupakan jalur transit bagi ratusan truk yang mengangkut barang-barang antara Eropa, Turki, dan negara-negara Teluk.

Suriah berharap hubungan dagang yang lebih luas dengan Yordania, negara tetangganya di selatan, akan membantunya bangkit kembali dari keterpurukan serta turut mendatangkan devisa yang sangat diperlukannya.

Suriah menyalahkan negara-negara Barat karena menerapkan sanksi hingga ekonominya menderita. Para pejabat Yordania dan Lebanon telah mendesak pemerintah Amerika Serikat untuk melonggarkan sanksi bagi Suriah guna membantu kelancaran perdagangan.

Negara-negara Arab memutuskan hubungan dengan Suriah saat perang saudara berlangsung di negara tersebut. Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), konflik itu telah menjatuhkan lebih dari 350 ribu korban jiwa.

Negara-negara Arab sekutu Amerika Serikat, termasuk Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab UAE), mendukung kelompok-kelompok oposisi Suriah yang selama bertahun-tahun memerangi Presiden Bashar al-Assad.

Namun, pasukan pemerintah Suriah, dengan dukungan Rusia dan Iran, berhasil menumpas para pemberontak. Uni Emirat Arab dan Suriah menyambungkan kembali hubungan diplomatik kedua negara pada 2018.

Assad telah menguasai kembali sebagian besar wilayah Suriah, namun beberapa wilayah masih berada di luar kendalinya. Pasukan Turki ditempatkan di banyak titik di wilayah utara dan barat laut, yang merupakan kawasan benteng para pemberontak. Amerika Serikat, sementara itu, menempatkan pasukannya di wilayah timur dan timur laut yang dikendalikan Kurdi.     

sumber : Reuters/Antara